BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Produk
pangan yang ada di Indonesia tidak hanya berupa produk pangan padat. Produk
pangan cair juga sangat banyak bentuknya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi pangan, berbagai jenis makanan yang berbentuk gel maupun cairan
telah banyak diproduksi dan beredar di masyarakat. Pembuatan produk pangan cair
tentunya harus juga dibarengi dengan pemahaman mekanika fluida yang cukup agar
pengolahan dalam proses pembuatannya lancar dan produk pangan tersebut tidak
rusak. Dengan pengolahan yang tepat, kualitas pangan bisa dipertahankan bahkan
bisa ditingkatkan. Di Indonesia, dengan berbagai sumber daya yang ada dan
potensial untuk dikembangkan sudah sepatutnya kita sebagai mahasiswa mampu
memahami cara pengolahan dan hal apa saja yang harus diperhatikan dalam proses
pengolahannya. Sebagai langkah awal adalah dengan melakukan praktikum ini.
1.2.
Tujuan Praktikum
Praktikum
ini dilakukan dengan tujuan untuk
mempelajari aliran yang melalui pipa kapiler dan untuk mengetahui arti
aliran laminar dan turbulen dan menentukan kecepatan transisi antara kedua
aliran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Fluida
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk
(distorsi) secara permanen. Bila bentuk suatu massa fluida akan diubah, maka di
dalam fluida akan terbentuk lapisan-lapisan hingga mencapai suatu bentuk baru (Munson, 2009).
Aliran
fluida dapat dikategorikan menjadi:
1.
Aliran laminer
Aliran
dengan fluida yang bergerak dalam lapisan-lapisan, atau lamina-lamina dengan
satu lapisan meluncur secara lancar. Dalam aliran laminar ini, viskositas
berfungsi untuk meredam kecendrungan terjadinya gerakan relatif antara lapisan.
2.
Aliran turbulen
Aliran
dimana pergerakan dari partikel-partikel fluida sangat tidak menentu karena
mengalami percampuran serta putaran partikel antarlapisan, yang mengakibatkan
saling tukar momentum dari satu bagian fluida kebagian fluida yang lain dalam
skala yang besar.
3.
Aliran transisi
Aliran
transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran turbulen
(Fathi, 2013).
Sebuah Fluida Newtonian (dinamakan dari Isaac
Newton) didefinisikan
sebagai fluida yang tegangan gesernya berbanding lurus secara linier dengan gradien kecepatan pada arah tegak lurus dengan bidang geser. Definisi ini memiliki arti bahwa
fluida newtonian akan mengalir
terus tanpa dipengaruhi gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Sebagai
contoh, air adalah fluida Newtonian karena air memiliki properti fluida
sekalipun pada keadaan diaduk. Sebaliknya, bila fluida non-Newtonian diaduk, akan tersisa suatu "lubang". Lubang
ini akan terisi seiring dengan berjalannya waktu. Sifat seperti ini dapat
teramati pada material-material seperti puding. Peristiwa lain yang terjadi
saat fluida non-Newtonian diaduk adalah penurunan viskositas yang menyebabkan
fluida tampak "lebih tipis" (dapat dilihat pada cat). Ada banyak tipe fluida non-Newtonian yang kesemuanya
memiliki properti tertentu yang berubah pada keadaan tertentu (anonim b, 2013)
2.2. Bilangan Reynold
Bilangan Reynold
yaitu perbandingan antara inersia dan gaya gesek. Laju air dan berat jenis
adalah inersia, sedangkan diameter pipa dan viskositas adalah gaya gesek (Gibbs, 2008).
Arus
zat warna untuk debit yang kecilakan berarak melalui tabung membentuk
lamina-lamina (benang-benang) yang menunjukkan bahwa aliran tersebut aliran
laminer. Dengan meningkatnya laju aliran terebut maka bilangan Reynold akan bertambah besar, karena
parameter V berbanding lurus dengan laju aliran, sedangkan parameter Dρμ adalah
konstan. Zat warna pada kondisi tersebut akan bercampur dengan air. Aliran
telah berubah menjadi aliran turbulen dengan pertukaran momentumnya yang besar
yang sepenuhnya mengganggu gerakan teratur aliran-aliran laminer (Anonim a,
2008).
Re = Dv


Keterangan:
D = diameter pipa (m2) ; v =
kecepatan aliran (m/s) ;
= densitas zat
cair ; µ = viskositas zat cair (Ns/m2) (Munson, 2009).

2.3.
Pengertian Debit
Debit adalah besaran yang menyatakan banyaknya
fluida yang mengalir selama 1 detik yang melewati suatu penampang luas. Maka,
dapat dikatakan pula debit sebagai hasil kali kecepatan dan luas penampang.
Debit yang masuk pada suatu penampang luasan sama dengan debit yang keluar pada
luasan yang lain meskipun luas penampangnya berbeda. Hal ini disebut persamaan
kontinuitas (Fathi, 2013).
BAB III
METODOLOGI
PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Minggu 1 Desember 2013 di Laboratorium Teknik dan Konservasi Lingkungan Pertanian,
Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.
3.2. Alat dan Bahan
Praktikum
3.2.1.
Alat Praktikum
Adapun
alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1 set pompa air, gelas ukur dan penampung air, stopwatch serta suntikan.
3.2.2.
Bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah zat pewarna
dan air.
3.3. Prosedur Kerja
Langkah-langkah kerja yang dilakukan pada praktikum adalah sebagai berikut
:
1. Disiapkan peralatan praktikum.
2. Dialirkan air di dalam pipa
kemudian dicampur dengan zat pewarna.
3. Dilakukan percobaan untuk aliran
laminar, transisi dan turbulen.
4. Masing-masing perlakuan diulang
sebanyak tiga kali ulangan.
5. Dihitung bilangan Reynold untuk setiap aliran.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.
Pengamatan Aliran Laminer, Transisi dan Turbulen
Aliran
|
Volume (mL)
|
Rata-Rata (mL)
|
Re
|
||
1
|
2
|
3
|
|||
Laminer
|
300
|
400
|
400
|
366
|
497
|
Transisi
|
550
|
700
|
550
|
600
|
2736
|
Turbulen
|
900
|
750
|
800
|
816
|
9203
|
4.2. Hasil Perhitungan
Diketahui:
= 1

D = 0,02 m
r = 0,01 m


A
=
2

= 3,14 x 10-4 m2
µ = 0,804 x 10-6 Ns/m2
Ditanya: a. Debit (Q) =
...?
b. Kecepatan (v)
=
...?
c. Bilangan Reynold = ...?
Penyelesaian:
1.
Aliran Laminer
Diketahui : Volume rata-rata = 3,66 x 10-4 m3
Waktu
(
) =
36 s

a. Q = 

= 

= 0,06 x 10-4


b. v = 

= 

= 

= 0,02 m/s
c. Re = 

= 

= 497
2.
Aliran Transisi
Diketahui
: Volume rata-rata = 6 x 10-4 m3
Waktu (
) = 17 s

a. Q = 

= 

= 0,35 x 10-4


b. v = 

= 

= 

= 0,11 m/s
c. Re = 

= 

= 2.736
3.
Aliran Turbulen
Diketahui : Volume rata-rata = 8,16 x 10-4 m3
Waktu
(
) =
6,86 s

a. Q = 

= 

= 1,19 x 10-4


b. v =


=


= 

= 0,37 m/s
c. Re = 

= 

= 9.203
BAB V
PEMBAHASAN
Fluida
(zat alir) adalah zat yang dapat mengalir dan memberikan sedikit hambatan
terhadap bentuk ketika ditekan, misalnya zat cair dan gas. Fluida dapat digolongkan
dalam dua macam, yaitu fluida statis dan fluida dinamis. Fluida atau zat alir
adalah bahan yang dapat mengalir dan bentuknya dapat berubah dengan perubahan
volume. Fluida mempunyai kerapatan yang harganya tertentu pada suhu dan tekanan
tertentu. Jika kerapatan fluida dipengaruhi oleh perubahan tekanan maka fluida
itu dapat mampat atau kompresibel. Sebaliknya fluida yang kerapatannya hanya
sedikit dipengaruhi oleh perubahan tekanan disebut tidak dapat mampat atau
inkompresibel. Contoh fluida kompresibel adalah udara (gas) sedangkan yang
inkompresibel adalah air (zat cair).
Aliran fluida dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama adalah
aliran laminer yaitu aliran zat cair yang mengalir dengan kecepatan sedang atau
konstan. Kedua adalah aliran yang bersifat turbulen yaitu aliran dengan sangat cepat dan sangat bergelombang. Ketiga adalah aliran fluida yang bersifat transisi yaitu aliran antara aliran laminer dan
turbulen.
Seorang peneliti yang
bernama Osborne Reynold telah mencoba
untuk menentukan dua kondisi air dengan debit aliran yang berbeda. Dua ikhwal
aliran dikatakan serupa secara dinamik bila kedua aliran tersebut serupa
geometrik, yakni ukuran-ukuran linier yang bersesuaian mempunyai perbandingan
yang konstan. Garis-garis
aliran yang bersesuaian adalah serupa secara geometrik, atau tekanan-tekanan
dititik -titik yang bersesuaian mempunyai perbandingan yng konstan. Dari kedua
pernyataan tersebut Reynold
menyimpulkan bahwa aliran-aliran tersebut akan serupa secara dinamik jika
persamaan-persamaan diferensial umum yang mengganbarkan aliran-aliran tersebut
identik.
Aliran laminar
didefinisikan sebagai aliran dengan fluida yang bergerak dalam
lapisan-lapisan, atau lamina-lamina, dengan satu lapisan meluncur secara lancar
pada lapisan yang bersebelahan dimana saling tukar momentum secara molekuler.
Aliran untuk menuju arah kestabilan dan turbulensi diredam oleh gaya-gaya
viskos yang memberikan tahanan terhadap gerakan relatif lapisan-lapisan fluida
yang bersebelahan. Aliran laminar adalah aliran fluida yang partikel-partikelnya
bergerak secara teratur, terjadi pada kecepatan rendah, fluida cenderung
mengalir tanpa adanya pencampuran lateral, berlapis-lapis seperti kartu, tidak
ada arus tegak lurus arah aliran, tidak ada pusaran dan mempunyai garis edar
yang sejajar. Perpindahan partikel ini tidak disertai
dengan perpindahan momentum antara lapisan yang satu dengan lapisan yang
lainnya. Aliran laminar terjadi bila Re <
2300. Hasil dari percobaan
dan perhitungan akan diperoleh jenis aliran yaitu aliran laminar karena
mempunyai bilangan Re < 2300. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, aliran laminar diperoleh
bilangan Reynold sebesar 497. Ini dapat menunjukkan bahwa perbandingan antara
teori dengan pengujian tejadi kesignifikan walaupun nilai Reynold yang dihasilkan kecil dan dikarenakan aliran yang ditampung
dalam tampungan sedikit dan juga dapat dikarenakan oleh besarnya aliran yang
mengalir pada selang.
Aliran turbulen terdapat
gerak partikel fluida yang sangat tidak menentu, dimana momentum dalam arah
melintang yang sangat kelihatan. Aliran
turbulen adalah aliran yang partikel-partikelnya bergerak tidak beraturan,
terjadi lateral mixing, secara
keseluruhan arah aliran tetap sama, distribusi kecepatan lebih seragam dengan
disertai perpindahan momentum antara partikel fluida yang bertumbukan dengan
kecepatan yang berubah dari titik ke titik pada selang waktu tertentu. Pada
saat turbulen air sangat bergejolak dimana golakannya sebesar 1-30 % dari
kecepatan rata-rata aliran turbulen. Bilangan Reynold aliran turbulen berkisar >4000.
Pada percobaan kedua
didapatkan nilai bilangan Reynold
yaitu sebesar 9203. Parameter bilangan Reynold
dapat dikatakan sebagai perbandingan gaya lembam terhadap gaya viskos. Bilangan Reynold
yang besar menunjukkan bahwa aliran tersebut sangat turbulen dimana kerugian
sebanding dengan kuadrat kecepatan. Pada pengujian ketiga, diperoleh besar
bilangan Reynold adalah 2.736. Untuk
Re yang menengah (antara 2300 – 4000) akibat-akibat inersia maupun viskositas
keduanya berperan, dimana perubahan viskos akan dapat mengubah distribusi
kecepatan serta tahanan terhadap aliran. Aliran yang mempunyai bilangan Reynold antara 2300
– 4000
disebut dengan aliran transisi, dimana aliran ini berada antara aliran laminer dan aliran turbulen. Secara visualisasi aliran transisi
cenderung sulit ditentukan. Aliran transisi memiliki ciri aliran yang
bergelombang.
Dengan dinaikkannya laju aliran,
maka naiklah bilangan Reynold, karena
konstan dan V berbanding lurus dengan laju aliran. Dengan meningkatnya debit,
kita mencapai suatu kondisi saat arus zat warna bergoyang dan kemudian
tiba-tiba terurai serta terbaur ke seluruh tabung. Aliran telah berubah menjadi
aliran turbulen dengan pertukaran momentumnya yang dahsyat yang telah
sepenuhnya mengganggu gerakan teratur aliran laminar.
Aliran laminer dan aliran turbulen sangat
berpengaruh dalam proses pengolahan pangan, seperti proses sterilisasi. Pengendalian laju aliran sangat penting juga kaitannya dengan
penentuan waktu tinggal minimum produk pangan di alat penukar panas. Waktu
tinggal minimum inilah yang akan digunakan untuk menentukan kecukupan panas
pada sterilisasi. Semakin tinggi laju alirannya, maka akan semakin pendek waktu
tinggalnya. Contoh produk pangan cair yang banyak
dipasaran antara lain susu cair, minuman penambah energi, minuman isotonik, jus
buah, teh, sirup, dan lain-lain.
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan dapat
ditarik beberapa kesimpulan antara lain:
1. Fluida (zat alir) adalah zat yang dapat mengalir dan memberikan sedikit
hambatan terhadap bentuk ketika ditekan, misalnya zat cair dan gas.
2. Aliran zat cair ada tiga jenis yaitu aliran
laminer, aliran transisi dan aliran turbulen.
3. Aliran laminar adalah aliran fluida yang
partikel-partikelnya bergerak secara teratur, terjadi pada kecepatan rendah.
4.
Aliran
turbulen terdapat gerak partikel fluida yang sangat tidak menentu, dimana
momentum dalam arah melintang yang sangat kelihatan.
5.
Aliran
laminer bilangan Reynold-nya berkisar
kurang dari 2300,
aliran transisi bilangan Reynold-nya
berkisar antara 2300 sampai 4000 dan aliran turbulen berkisar lebih besar dari 4000.
6.
Bilangan Reynold Aliran laminer berdasarkan hasil
perhitungan sebesar 497, aliran transisi 2736 dan turbulen 9203.
7.
Produk
pangan cair contohnya adalah susu cair, minuman penambah energi, minuman
isotonik, dan lain-lain.
6.2.
Saran
Adapun saran
untuk praktikum ini yaitu, sebaiknya mempelajari buku petunjuk praktikum agar
lebih memahami materi yang akan di praktikkan.
DAFTAR PUSTAKA
Akhirudin, T., 2008. Desain
Alat Destilasi Air Laut dengan Sumber Energi Tenaga Surya sebagai Alternatif
Penyediaan Air Bersih. IPB Press. Bogor
Alakali,
Joseph S., Sunday O. Eze, and Michael O. Ngadi., 2012. Influence of Variety and Processing
Methods on Specific Heat Capacity of Crude Palm Oil. International Journal
of Chemical Engineering and Applications, Vol. 3 (5) : 300 – 302. McGill
University. Canada
Almatsier,
S., 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Pustaka
Gramedia Utama. Jakarta
Anonim a, 2008. Modul Praktikum
Mekanika Fluida. Universitas Jenderal Soedirman.
Purwokerto
Anonim a, 2008. Modul
Praktikum Mekanika Fluida. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto
Anonim b,
2013. Mekanika Fluida. http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_fluida.
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013)
Anonim b, 2013. Mekanika fluida. http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_fluida.
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013)
Anonim, 2007. Petunjuk Praktikum Satuan Operasi. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Mataram
Anonim, 2012. Peralatan Pengecilan
Ukuran. http://agroindustrialis.blogspot.
com/2012/06/peralatan-pengecil-ukuran-size.html. (Diakses pada hari
Kamis, 19 desember 2013)
Arutanti, Osi dan
Mikrajuddin Abdullah, Khairurrijal, dan Hernawan Mahfudz. 2009. Penjernihan Air Dari Pencemar Organik dengan
Proses Fotokatalis pada Permukaan Titanium Dioksida (TiO2) . Jurnal
Nanosains & Nanoteknologi ISSN 1979-0880
Budiarti, Akhmad. 2009., Teknologi Sederhana. Erlangga. Jakarta
Choirunnisa, F., 2009. Dasar-Dasar Keteknikan Pengolahan.
Liberty. Yogyakarta
Fathi, 2013. Laporan Praktikum Mekanika Fluida. http://binderismine. blogspot.com/2013/01/laporan-praktikum-mekanika-fluida.html.
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013)
Fathi, 2013. Laporan Praktikum
Mekanika Fluida. http://binderismine. blogspot.com/2013/01/laporan-praktikum-mekanika-fluida.html.
(Diakses pada tanggal 3 Desember 2013)
Giancoly,
D.C., 2001. Fisika Jilid 1(Terjemahan).
Erlangga. Jakarta
Gibbs, K. 2008. Advanced
Physics. Cambridge University Press. New York
Intan, Sunita., 2013. Filtrasi Air Limbah. http://sunitaintan.blogspot.com/
2013/01/filtrasi-air-limbah.html. (Diakses pada hari Rabu 11
Desember 2013)
Ismanilda. A.,
2011. Ilmu Pangan Lanjut. Liberty.
Yogyakarta
Jennes, 2005. Teori dan
Prosedur mutu susu. Jilid 1. Liberty.Yogya
Juliastuti, E., 2002. Fisika Universitas. Erlangga. Jakarta
Karmana, O., 2009. Pengantar Fisika Teknik. Rhineka Cipta. Jakarta
Lukman, D.,
2013. Kerusakan Pangan. http://higiene-pangan.blogspot.com/2013/
07/kerusakan-pangan.html. (Diakses pada hari Selasa, 17 Desember
2013)
Munson and Young., 2009. Fundamentals
of Fluids Mechanics, ed. 4. Erlangga. Jakarta
Munson and Young., 2009. Fundamentals
of Fluids Mechanics, ed. 4. Erlangga. Jakarta
Nabawiyah,
Khilfatin & Ahmad Abtokhi., 2010. Penentuan Nilai Kalor dengan Bahan Bakar
Kayu Sesudah Pengeringan serta Hubungannya dengan Nilai Porositas Zat
Padat. Jurnal Neutrino, Vol.3 (1) : 13 – 20. UIN Maulana Malik Ibrahim. Malang
Nurmaed, Im., 2012. Laporan
Praktikum Destilasi. http://imnurmaed.blogspot.com/
2012/12/laporan-rktikum-destilasi.html. (Diakses pada hari Rabu 11
Desember 2013)
Oliveira,
J. M., Lessio, B. C., Morgante, C. M., Santos, M. M. and Augusto, P. E. D.
2012. Specific Heat (Cp) Of Tropical
Fruits: Cajá, Cashew Apple, Cocoa, Kiwi, Pitanga, Soursop Fruit And Yellow
Melon. International Food Research Journal 19 (3) : 811-814. Unicamp. Brazil
Petrucci
Pauliza, O., 2008. Fisika Kelompok Teknologi. Grafindo
Media Pratama. Jakarta
Purwanto, B., 2009. Fisika Dasar 1. Liberty. Yogyakarta
Sahara, Z.,
2010. Sifat Reologi Bahan Pangan.
Andi Offset. Yogyakarta
Saloko, S., 1997. Petunjuk Praktikum Satuan Operasi. Fakultas
Pertanian Universitas Mataram. Mataram
Sebayang, D.,
1986. Teori Elastisitas. Erlangga.
Jakarta
Setyaningsih,
D., 2011. Teknologi Isolasi Minyak Atsiri. Liberty. Yogyakarta
Sinell,
HJ., 1992. Einführung
in Die Lebensmittel Hygiene 3. Überarbeitete
Auflage. Verlag Paul Parley. Berlin
Sudiana. P., 2005. Dasar-Dasar Fisika. Binaputra Aksara.
Jakarta
Sugiharto, 1987. Gelombang dan Medan. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta
Supardi, N. I., 2007. Pengecilan Ukuran Produk Pertanian. Andi Offset. Yogyakarta
Sutrisno,
E.T., 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Universitas Pasundan Press.
Bandung
Syarief, R., 1998. Pengetahuan
Bahan Industri Pertanian. Mediatama Sarana Prakasa. Jakarta
Tandra, 2011. Laporan Praktikum Konversi Satuan. http://rianrtandra.
wordpress.com/2011/10/20/laporan-praktikum-satuan-operasi-i-konversi-satuan.html.
(Diakses pada hari Minggu, 22 Desember 2013)
Utami, Isni.,
2009. Mekanika Fluida.
www.lontar.ui.ac.id (Diakses pada tanggal 3 Desember 2013)
Walker, J.,
2008. Dasar-Dasar Fisika (Terjemahan).
Binaputra Aksara. Jakarta
No comments:
Post a Comment