Wednesday, July 9, 2014


















program kreatifitas mahasiswa kewirausahaan (pkm k) pangaha bunga khas kaki gunung tambora

studi kelayakan bisnis ubi barokah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembangunan pertanian harus dipandang dari dua pilar utama secara terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan yaitu pertama, pilar pertanian primer (on-farm agriculture/agribusiness) yang merupakan kegiatan usahatani yang menggunakan sarana dan prasarana produksi (input factors) untuk menghasilkan produk pertanian primer. Kedua, pilar pertanian sekunder (down-stream agriculture/ agribusiness) sebagai kegiatan meningkatkan nilai tambah produk pertanian primer melalui pengolahan (agroindustri) beserta distribusi dan perdagangannya.
Pengembangan agribisnis salah satu yang harus mendapat perhatian adalah agribisnis umbi-umbian. Salah satu komoditas pertanian yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dalam agroindustri adalah ubi jalar. Jenis umbi-umbian sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Pemanfaatannya sebagian besar dikonsumsi dengan cara direbus atau hanya sekedar dibakar, sebagian lagi dibuat sayur dan diolah dalam berbagai bentuk olahan makanan seperti pembuatan kolak.
Ubi jalar merupakan sumber karbohidrat yang kuat dapat dipanen pada umur 3 – 8 bulan.  Ubi jalar tidak memerlukan tanah yang subur karena pada tanah yang subur hanya daun dan batangnya yang tumbuh lebat. Ubi jalar umumnya tumbuh baik di tanah berpasir atau kering dan dapat dibudidayakan tanpa adanya irigasi.
Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.) juga mengandung vitamin A, C, dan mineral. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker.
Ubi jalar yang daging umbinya berwarna kuning, banyak mengandung vitamin A, beberapa varietas ubi jalar mengandung vitamin A setara dengan wortel. Di Jepang, Korea, Cina, Taiwan dan Amerika Serikat, ubi jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan pokok tetapi juga diolah menjadi pangan olahan seperti selai, saos, juice, serta sebagai bahan baku industri dan pakan ternak.
Selain karbohidrat, ubi jalar juga mengandung antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan,  selanjutnya kandungan ubi jalar itu sendiri adalah protein, lemak, kalori, serat, abu, kalsium, fosfor, zat besi,karoten, vitamin B1, B2, C, dan asam nikotinat yang bermanfaat sebagai tonik, menghentikan perdarahan dan mengatasi kencing manis (diabetesmellitus). Disamping itu, ubi jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri dan pakan ternak.
Di Indonesia, ubi jalar umumnya sebagai bahan pangan sampingan. Sedangkan di Papua, ubi jalar adalah digunakan sebagai makanan pokok. Komoditas ini ditanam baik pada lahan gunung maupun lahan sawa. Luas panen ubi jalar di Indonesia sekitar 230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha. Padahal dengan teknologi maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah/ha. Ubi jalar  masa panennya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti iklim, tingkat kesuburan tanah, varitas dan lokasi penanaman. Apabila ditanam didataran tinggi maka masa panen akan lebih lama antara 5 s/d 6 bulan sementara apabila ditanam didataran rendah bisa dipanen saat berumur 3 s/d 4 bulan. Ubi jalar hasil panen sangat bervariasi tergantung lokasi penanaman. Penanaman didataran rendah bisa dipanen ubi jalar sebanyak 15 – 20 ton / hektar. Untuk dataran sedang bisa dipanen ubi sebanyak 20 – 25 ton / hektar dan didataran tinggi bisa dipanen 25 – 30 ton / hektar.
Keberadaan Ubi jalar dapat disimpan hingga 5 s/d 6 bulan bahkan lebih tergantung dari cara penyimpanan. Ubi jalar yang telah disimpan rasanya lebih manis dibandingkan dengan ubi jalar yang baru saja dipanen. Cara yang paling praktis agar tahan lama disimpan adalah dibenamkan kedalam pasir.
Ubi jalar atau ketela rambat diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar mulai menyebar keseluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika, diperkirakan pada abad ke- 16. Penyebaran ubi jalar pertama kali terjadi ke spanyol melalui Tahiti, kepulauan Guam, Fiji, dan Selandia Baru. Pada tahun 1960-an penanaman ubi jalar sudah meluas hampir di semua provinsi di Indonesia. Daerah sentra produksi ubi jalar pada mulanya terpusat di Pulau Jawa, terutama Kabupaten Bogor, Garut, Bandung, Kuningan, Serang, Sukabumi, Purwakarta dan lain-lain.
Ubi jalar sangat penting dalam tatanan penganekaragaman pangan. Jika dilihat dari kegunaannya, maka ubi jalar memiliki peluang yang baik untuk dikembangkan. Peningkatan produksi ubi jalar di Indonesia pada umumnya dan di Desa Pesanggerahan pada khususnya dapat didorong melalui pengembangan agroindustri pengolahan hasil panen menjadi produk-produk yang unggul, menarik, dan awet sehingga laku di pasaran, baik dalam negeri maupun pasar luar negeri (ekspor). Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam mendorong masyarakat untuk mengembangkan ubi jalar melalui pameran dan penyuluhan yang memberikan gambaran bahwa ubi jalar dapat diangkat menjadi sumber bahan pangan alternatif. Pemerintah dapat juga memberikan kebijakan harga dasar yang layak untuk merangsang minat petani mengembangkan ubi jalar sebagai salah satu program diversifikasi pangan.
Saat ini usaha pengolahan ubi jalar di Desa Pesanggerahan relatif sedikit dan umumnya masih diusahakan dalam skala yang relatif kecil dengan manajemen yang sederhana. Hal ini diakibatkan masyarakat kurang mengetahui potensi-potensi yang ada pada usaha pengolahan ubi jalar. Berdasarkan hal tersebut di atas maka perlu adanya suatu upaya untuk menggali potensi-potensi agroindustri atau usaha pengolahan ubi jalar agar usaha pengolahan ini dapat dikembangkan.
Nilai tambah yang didapat jika ubi jalar diolah menjadi keripik ubi diantaranya adalah meningkatnya harga jual serta umur simpan produk menjadi lebih lama. Keuntungan yang didapat dari usaha keripik ubi memberi peluang untuk didirikannya industri pengolahan keripik ubi. Sebelum keripik ubi dipasarkan di suatu wilayah, maka diperlukan penilaian mengenai seberapa besar permintaan konsumen yang ada serta potensinya untuk dapat berkembang di masa mendatang. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi resiko kegagalan produk yang dipasarkan. Selain aspek pasar, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan operasional industri meliputi kelayakan jumlah dan mutu bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proses produksi, teknologi pengolahan yang digunakan, serta beberapa hal yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan teknis kegiatan industri seperti lahan, bangunan, dan tenaga kerja. Dalam langkah pendirian industri pengolahan keripik ubi juga diperlukan pertimbangan yang berkaitan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan serta tingkat penerimaan yang akan didapat sehingga tingkat resiko dari biaya yang diinvestasikan dapat diukur tingkat kelayakannya. Sebuah industri tidak dapat didirikan jika tidak mendapat izin dari pemerintah atau tidak ada undang-undang yang mengatur tentang pendirian industri di suatu daerah. Maka dalam studi kelayakan pendirian industri pengolahan keripik ubi juga diperlukan analisis mengenai peraturan dan perizinan mengenai pendirian industri. Untuk menilai tingkat kelayakan pendirian industri pengolahan keripik ubi di Desa Pesanggrahan, maka dibutuhkan studi kelayakan yang dalam dan komprehensif sehingga hasil studi kelayakan dapat menggambarkan tingkat kelayakan pendirian industri dengan baik. Informasi yang didapat dari studi kelayakan pendirian industri pengolahan keripik ubi di Pesanggrahan mencakup gambaran ketersediaan pasar dan perkiraanya, kebutuhan teknis industri, kelayakan finansial, dan studi kelayaakan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai tingkat kelayakan pendirian industri kecil keripik ubi jalar di Kabupaten Lombok Timur meliputi aspek pasar, teknis dan teknologis, finansial, SDM, dan Aspek lainnya.
B.     Maksud dan Tujuan
Manfaat penelitian ini diantaranya dapat digunakan sebagai acuan bagi calon wirausahawan dan investor yang ingin melakukan usaha bisnis keripik ubi jalar di kabupaten Lombok Timur, Desa Pesanggrahan, masukan bagi perbankan untuk pemberian pinjaman dan masukan bagi pemerintah dalam melakukan pembinaan bagi para petani ubi jalar di Kabupaten Lombok Timur.


















BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Ubi Jalar (ipomea batatas)
Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia (Sarmi Julita, 2011).
Menurut ilmu taksonomi, tanaman ubi jalar berwarna violet dimasukkan dalam klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi     : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Asteridae
Ordo                : Solanales
Famili              : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan)
Genus              : Ipomoea
Spesies             : Ipomoea batatas Poir
Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di dunia diperkirakan berjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis yang diidentifikasi oleh para peneliti. Lembaga penelitian yang menangani ubi jalar, antara lain: International Potato centre (IPC) dan Centro International de La Papa (CIP). Di Indonesia, penelitian dan pengembangan ubi jalar ditangani oleh Pusat Peneliltian dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian (Sarmi Julita, 2011).
Varietas atau kultivar atau klon ubi jalar yang ditanam di berbagai daerah jumlahnya cukup banyak, antara lain: lampeneng, sawo, cilembu, rambo, SQ-27, jahe, kleneng, gedang, tumpuk, georgia, layang-layang, karya, daya, borobudur, prambanan, mendut, dan kalasan. Varietas yang digolongkan sebagai varietas unggul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.    Berdaya hasil tinggi, di atas 30 ton/hektar,
b.    Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan,
c.    Rasa ubi enak dan manis,
d.   Tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.)dan penyakit kudis oleh cendawan Elsinoe sp,
e.    Kadar karotin tinggi di atas 10 mg/100 gram.
f.     Keadaan serat ubi relatif rendah.
(Sarmi Julita, 2011)

B.     Studi Kelayakan Bisnis
Kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan usaha/proyek disebut dengan studi kelayakan bisnis. Studi kelayakan bisnis merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha/proyek yang direncanakan (Ibrahim, 2009).
Menurut Gittinger (1986), proyek adalah kegiatan usaha yang menggunakan sumber-sumber daya untuk memperoleh keuntungan atau manfaat. Perencanaan proyek yang baik tergantung pada tersedianya berbagai informasi mengenai adanya investasi yang potensial dan informasi mengenai pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan tujuan lainnya. Analisis proyek menyediakan informasi proyek-proyek yang dipilih untuk dilaksanakan lalu menjadi alat agar penggunaan sumber-sumber daya dapat menciptakan pendapatan. Dalam melaksanakan studi kelayakan bisnis, ada beberapa tahapan studi yang hendaknya dikerjakan. Tahapan-tahapan tersebut diantaranya adalah penemuan ide, tahap penelitian, dan tahap pengurutan usulan yang layak (Umar, 2003).
Penentuan layak atau tidaknya suatu usaha dapat dilihat dari berbagai aspek. Ukuran kelayakan tiap proyek berbeda-beda berdasarkan jenis usahanya, namun mengacu pada aspek-aspek yang sama. Untuk melakukan penilaian terhadap aspek-aspek ini, perlu dibentuk suatu tim yang terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai bidang keahlian. Studi kelayakan bisnis terdiri dari beberapa aspek yang sama-sama penting untuk diperhatikan, yaitu :
1.      Aspek Pasar
Pengertian pasar secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Pengertian lebih luas tentang pasar adalah himpunan pembeli nyata dan pembeli potensial atas suatu produk (Kasmir dan Jakfar, 2006). Sutojo (1993) menyatakan bahwa dalam mengkaji aspek pasar, hal yang perlu diperhatikan adalah kedudukan produk dalam pasar saat ini, komposisi dan perkembangan permintaan produk di masa lalu dan sekarang, dan proyeksi permintaan produk di masa yang akan datang, kemungkinan adanya persaingan, dan peranan pemerintah dalam menunjang perkembangan produk. Menurut (Umar,2003), kondisi pasar saat ini dapat diketahui dengan melakukan identifikasi terhadap pesaing dan mengestimasi penjualan mereka. Kegunaan dari analisis aspek pasar adalah untuk menentukan besar, sifat, dan pertumbuhan permintaan total akan produk yang bersangkutan, serta deskripsi tentang produk dan harga jualnya (Edris, 1983).
2.      Aspek Teknik dan Teknologi
Aspek teknik dan teknologi merupakan salah satu aspek penting dalam proyek dan berkenaan dengan proses pembangunan industri secara teknis dan operasi setelah industri tersebut dibangun (Husnan dan Suwarsono, 1991). Analisis teknik secara spesifik mencakup analisis terhadap ketersediaan bahan baku, proses produksi, mesin, dan peralatan, jumlah mesin dan peralatan, keperluan tenaga kerja, dan penentuan luas pabrik (Husnan dan Suwarsono, 1994) Studi aspek teknik dan teknologi menurut Umar (2003) meliputi rencana pengendalian persediaan bahan baku, penentuan kapasitas produksi, serta proses pemilihan teknologi untuk produksi.
3.      Aspek Finansial
 Analisis aspek finansial dilakukan untuk memperkirakan jumlah dana yang diperlukan, baik untuk dana tetap maupun modal kerja awal. Analisis finansial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya-biaya dengan manfaat (keuntungan) untuk menentukan apakah suatu proyek akan menguntungkan selama umur proyek (Sutojo, 1993). Studi kelayakan terhadap aspek finansial perlu menganalisis bagaimana perkiraaan aliran kas akan terjadi. Metode yang biasa dipertimbangkan untuk dipakai dalam penilaian aliran kas dari suatu investasi, yaitu metode Break Event Point, Net Present Value, Internal Rate of Return, dan Payback Period (Umar, 2003). Break Event Point (BEP) adalah suatu cara untuk menetapkan tingkat produksi dimana penjualan sama dengan biaya-biaya. Untuk memperoleh keuntungan, penerimaaan dari hasil penjualan harus berada di atas titik pulang pokok (BEP) tersebut. Intisari pengkajian BEP adalah penyajian kenyataan bahwa bila tingkat produksi atau penjualan tidak dapat melampaui titik ini maka proyek yang bersangkutan tidak dapat menghasilakan laba (Kadariah et. al, 1978). NPV merupakan selisih antara harga sekarang dari penerimaan dengan harga sekarang dari pengeluaran pada tingkat bunga tertentu (Gray et al, 1992). IRR adalah tingkat bunga yang menghasilkan NPV sama dengan nol. IRR digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang di harapkan di masa datang, asalkan keuntungan yang diperoleh setiap satuan waktu di tanam kembali. (Kadariah et. al, 1978).
4.      Aspek Sosial, Ekonomi dan Politik Ekonomi
Berkaitan dengan sifat dan arah sistem ekonomi tempat suatu perusahaan beroperasi. Karena pola konsumsi dipengaruhi oleh kesejahteraan relatif berbagai segmen pasar, dalam perencanaan strategiknya setiap perusahaan harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi di segmen-segmen yang mempengaruhi industrinya. Kekuatan sosial bersifat dinamis dan selalu berubah sebagai akibat upaya orang untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka melalui pengendalian dan penyesuaian diri terhadap faktor-faktor lingkungan. Menerjemahkan perubahan sosial ke dalam ramalan mengenai dampak-dampak terhadap bisnis merupakan proses yang sukar. Namun perkiraan dampak dari perubahan seperti perubahan geografis dalam populasi dan perubahan nilai kerja, standar etika dapat membantu perusahaan dalam usahanya untuk tetap berjaya Kondisi politik di suatu negara akan sangat menentukan tinggi rendahnya tingkat resiko politik yang akan mempengaruhi dunia bisnis pada negara yang bersangkutan. Secara sederhana, resiko politik dapat diartikan sebagai suatu ketidakpastian yang mengemuka dan dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan (termasuk investasi) akibat adanya ketidakstabilan politik di suatu negara. Kondisi politik yang tidak stabil dapat menjadi ancaman yang besar bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Karena faktor politik menentukan parameter legal dan regulasi yang membatasi operasi perusahaan. Menurut pengakuan Mahalli (2008), konstelasi politik saat ini tidak berpengaruh terhadap perusahaan yang dipimpinnya karena kebijakan-kebijakan yang ada masih berpihak kepada perusahaan.


5.      Aspek lingkungan Hidup
Ekologi mengacu pada hubungan antara manusia dan mahluk hidup lainnya dengan udara, tanah, dan air yang mendukung kehidupan mereka. Ancaman terhadap ekologi, bisnis sekarang memikul tanggung jawab untuk meniadakan hasil limbah dari proses manufaktur mereka dan untuk membersihkan kembali lingkungan yang telah tercemar akibat ulah sebelumnya. Oleh karena itu, untuk menjaga agar beban biaya pengendalian ekologi dapat terkurangi, maka diperlukan perencanaan tentang pemeliharaan ekologi dalam lingkungan operasional bisnis
6.      Aspek Lingkungan Bisnis
a.    Pendatang baru
Pendatang baru ke suatu industri membawa masuk kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar (market share), dan seringkali sumber daya yang cukup besar. Besarnya ancaman masuk bergantung pada hambatan masuk yang ada dan pada reaksi dari peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan calon pendatang baru.
b.    Kekuatan tawar-menawar pemasok
Pemasok dapat memanfaatkan kekuatan tawar menawarnya atas para anggota industri dengan menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang dan jasa yang dijualnya. Karenanya, pemasok yang kuat dapat menekan kemampulabaan suatu industri yang tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya dengan menaikkan harganya sendiri.
c.    Produk dan jasa substitusi
Penetapan batas harga tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa substitusi suatu industri. Jika industri tidak mampu meningkatkan kualitas produk atau mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri dapat terancam. Produk dan jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa normal melainkan juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam masa keemasan.
d.   Kekuatan tawar menawar pembeli
Pembeli memiliki kemampuan untuk menekan harga, menuntut kualitas lebih tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu domba sesama anggota industri. Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga jika mereka membeli produk yang tidak terdiferensiasi, relative lebih mahal terhadap penghasilan mereka, dan jika kualitas tidak terlalu penting bagi mereka.
e.    Persaingan dikalangan peserta persaingan yang ada
Perusahaan memiliki keleluasaan tertentu untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan pada segmen industri yang paling cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya paling rendah dapat mengurangi dampak persaingan antar anggota industri.
7.      Aspek SDM
Menurut Handoko (1994:233), sumber daya terpenting dari sautu organisasi atau perusahaan adalah sumber daya manusia – orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreatifitas dan usaha mereka kepada organisasi. Beberapa tugas-tugas kepemimpinan kritis manajer mencakup penarikan, penyeleksian, pengembangan dan penggunaan sumber daya manusia dalam pencapaian tujuan organisasi. Tanpa orang-orang yang cakap, organisasi dan manajemen akan gagal mencapai tujuannya. Bagaimana manajer melaksanakan fungsi penyusunan personalia (staffing) secara efektif atau tepat sasaran akan menentukan suktus atau kegagalan mereka sebagai manajemen.









BAB III
PEMBAHASAN
A.    Profil Perusahaan
1.      Data Perusahaan
a.       Nama Perusahaan : Keripik Ubi “ Barokah“
b.      Bidang Usaha : Industri Rumahan
c.       Jenis Produk / Jasa : Makanan Ringan
d.      Alamat Perusahaan : Jl. Pariwisata Otak Kokok Joben
e.       Nomor Telepon : 081 805 253 497 986
f.       Alamat E-mail : amahkyuforever@yahoo.com
g.      Situs Web : -
h.      Bank Perusahaan : -
i.        Bentuk Badan Hukum : Usaha Dagang
j.        Mulai Berdiri : 08 Desember 2011
2.      Biodata Pemilik atau Pengurus
a.       Nama : Hajjah Mustirah
b.      Jabatan : Pimpinan
c.       Tempat dan Tanggal Lahir : Kanjol Jawa, 31 Desember 1975
d.      Alamat Rumah : Jl. Pariwisata Otak Kokok Joben
e.       Nomor Telepon : 081 805 290 492
f.       Alamat E-mail : amahkyuforever@yahoo.com
g.      Pendidikan Terakhir : SMA
B.     Analisis Bisnis
1.      Aspek Pasar dan Pemasaran
1)        Produk yang Dihasilkan
Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan (Tjiptono, 2002:95). Pada bagian ini menjelaskan keseluruhan produk yang dihasilkan. Perencanaan yang perlu dilakukan menyangkut produk (output), terutama pada usaha manufaktur dan industri pengolahan adalah:
a.         Dimensi Produk
Dimensi produk berkenaan dengan sifat dan ciri-ciri produk yang meliputi bentuk, ukuran, warna serta fungsinya. Produk yang berbahan baku ubi ini disajikan dalam bentuk keripik yang disediakan dengan berbagai varian rasa dan harga.
b.        Nilai/Manfaat Produk
Produk keripik buah ubi yang ditawarkan memiliki manfaat yang positif bagi kesehatan konsumen.Produk keripik ubi juga memiliki Potential Benefit (manfaat potensial) seperti menjaga lingkungan dan memperdulikan kesehatan pelanggan.
c.         Kegunaan/Fungsi Produk
Produk konsumsi, yaitu produk yang dibeli dan digunakan oleh konsumen akhir (pemakai akhir). Keripik ubi merupakan produk yang dapat dinikmati dengan berbagai pilihan rasa dan harga.
2)        Keunggulan Produk
Keunggulan kompetitif produk keripik ubi antara lain :
a)      Rasa yang sangat renyah dan gurih.
b)      Kemasan yang ramah lingkungan.
c)      Kesegaran dari ubi jalar yang masih terasa.
d)     Harga terjangkau dan sesuai dengan kantong konsumen.
3)        Gambaran Pasar
Pada tahap ini menceritakan gambaran pasar, mulai dari gambaran pasar bisnis secara ringkas serta data penjualan beberapa tahun terakhir.
a.       Perkiraan / prediksi jumlah permintaan konsumen terhadap produk.
b.      Proyeksi penawaran dalam beberapa periode/tahun mendatang. Proyeksi penawaran disesuaikan dengan permintaan seperti kenaikan x % per tahun sesuai pertumbuhan proyeksi permintaan.


4)        Target Pasar atau Segmen Pasar yang Dituju
Target pasar adalah sekelompok pembeli yang mempunyai sifat-sifat yang sama yang membuat pasar itu berdiri sendiri. Adanya sekelompok orang dengan ciri-ciri yang sama belumlah berarti mereka membentuk pasar sasaran. Hanya bila mereka mempunyai ciri-ciri yang sama sebagai pembeli, maka barulah berarti mereka membentuk suatu pasar sasaran (Situmorang, 2008). Dalam suatu perusahaan pasti akan memiliki target atau segmentasi pasar yang dituju untuk mengembangkan usaha yang diproduksi oleh perusahaan. Target pasar memberikan prospek yang bagus dimana penulis dapat memasarkan produk keripik ubi ke beberapa tempat misalnya saja di kedai/warung, di koperasi-koperasi, bahkan dapat dipasarkan di supermarket-supermarket jika sudah memiliki izin usaha. Perusahaan yakin akan melangkah ke bisnis ini karena telah melihat target pasar sebelumnya melalui berbagai media cetak dan elektronik. Dalam segmentasi pasar, usaha ini tidak mengelompokkan siapa yang menjadi konsumen akan produk yang dihasilkan. Perusahaan yakin dengan target atau segmentasi pasar yang dituju akan membuat usaha ini menjadi lebih berkembang karena melihat dari usaha yang menjanjikan dan demografi yang sangat baik untuk usaha ini.
5)        Trend Perkembangan Pasar
Masyarakat Indonesia sangat mengikuti trend suatu produk di pasar saat ini, termasuk keripik ubi. Dengan demikian, perusahaan yakin ketika usaha ini telah berjalan akan menjadi perusahaan yang dapat berkembang cepat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi perekonomian Indonesia yang cukup baik dan selera masyarakat untuk mencoba suatu produk yang unik. Dari analisis perkembangan pasar yang dilakukan, pertumbuhan ekonomi seperti inflasi dan tingkat suku bunga mempengaruhi trend perkembangan pasar. Dari segi pertumbuhan ekonomi dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia sedang membaik dan ini sangat mempengaruhi tingkat pendapatan masyarakat. Hal ini mempengaruhi karena dengan tingkat pendapatan yang baik maka masyarakat akan tinggi pula untuk mengkonsumsi suatu produk. Keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi suatu produk maka akan tinggi pula hasrat masyarakat untuk mengkonsumsi produk dari perusahaan. Dari segi inflasi, faktor ini mempengaruhi dalam perkembangan perusahaan. Dikarenakan ketika inflasi tinggi maka akan berimbas pada bahan baku penolong usaha ini. Namun, ketika inflasi turun maka bahan baku penolong juga akan turun sehingga berimbas pula pada harga produk usaha penulis. Dari segi tingkat suku bunga, faktor ini juga mempengaruhi akan perkembangan usaha ini. Namun, dapat dilihat bahwa tingkat bunga mempengaruhi ketika usaha yang dijalankan mendapat pinjaman dari pihak ketiga yakni bank. Dalam usaha ini, modal untuk pendirian usaha ini merupakan usaha dari modal sendiri ditambah modal dari PNPM mandiri dan usaha ini tidak akan terpengaruh akan naik atau turunnya tingkat suku bunga.
6)        Proyeksi Penjualan
Perencanaan kapasitas produksi dilakukan untuk semua mesin, peralatan, dan faktor produksi lainnya sesuai dengan rencana jumlah produk akhir yang akan dihasilkan. Dengan sendirinya, kapasitas produksi sampai dengan tingkatan yang rinci semuanya akan mengacu pada hasil dari perhitungan peluang pasar atas produk yang bersangkutan. Kapasitas produksi biasa dinyatakan dalam unit per periode waktu tertentu (tahun, bulan, minggu, hari, atau jam). Untuk perencanaan strategis, proyeksi kapasitas penjualan dilakukan dalam jangka minimal 3 tahun ke depan, sesuai dengan rencana produksinya. Namun dalam usaha rumahan keripik ubi jalar ini, masih menggunakan alat-alat yang bukan mesin untuk melakukan pengirisan dan pengolahan ubi.
7)        Analisis Pesaing
Strategi Pemasaran Perusahaan dilakukan berdasarkan analisa 7 P menurut Kotler (2000) yang terdiri atas :
a.    Price (harga)
Strategi mengenai bagaimana produk lebih menarik konsumen dari segi harga dibandingkan pesaing. Umumnya konsumen lebih tertarik kepada produk dengan harga yang lebih murah. Pricing merupakan ekspresi nilai yang menyangkut kegunaan dan kualitas produk, citra yang terbentuk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk melalui jaringan distribusi, dan layanan yang menyertainya (Raymond Corey, 2001). Sehingga pricing bukan semata-mata biaya produksi ditambah dengan marjin keuntungan yang akan diambil, melainkan sebuah nilai yang mencerminkan value proposition. Harga yang tepat akan memiliki ikatan yang erat antara pembeli dan produsen. Harga produk tidak lebih murah daripada produk pesaing, karena harga tersebut merupakan harga yang sudah sesuai dengan ongkos produksi.
b.    Product (Produk)
     Strategi mengenai bagaimana produk usaha dapat menarik hati konsumen untuk membelinya. Produk yang ditawarkan merupakan produk keripik ubi yang memiliki kualitas terbaik dengan kadar gizi yang tinggi dan menyehatkan dan sekaligus berkhasiat obat.
c.    Promotion (Promosi)
Strategi mengenai bagaimana produk dapat dikenal oleh konsumen melalui cara Personal Selling yaitu promosi melalui penjualan langsung ke tempat konsumen berada dengan menawarkan dan mencoba produk langsung.
d.   Place (Saluran Distribusi)
Place merupakan cara untuk mendistribusikan produk untuk sampai ke tangan konsumen. Sistem distribusi yang dilakukan secara langsung ke konsumen.
e.    People
People merupakan kriteria sumber daya manusia secara umum yang dapat meningkatkan penjualan produk ke konsumen secara langsung ataupun tidak langsung. Usaha ini dilaksanakan oleh pemilik sendiri sebagai pemilik aktif. Maka pemilik mengutamakan pelayanan dengan sikap yang ramah, sopan dan bersahabat.
f.     Process
Proses yang ditampilkan kepada konsumen agar konsumen tertarik untuk membeli. Proses yang dapat ditampilkan seperti proses produksi yang baik ataupun proses pelayanan terhadap konsumen. Dalam proses, pelanggan dapat melihat secara langsung proses pembuatannya. Disini operasional usaha dituntut untuk menjaga kualitas produksi seperti mengutamakan kebersihan, langkah kerja yang efektif dan tangkas menanggapi permintaan.
g.    Physical Evidence
Penampilan fisik dari fasilitas pendukung atau sarana dalam menjual produk yang dapat dilihat langsung oleh konsumen. Kemasan produk berisi nama berikut alamat usaha. Dari analisis pasar dan pesaing yang penulis lihat bahwa, pesaing dari usaha ubi ini merupakan produk yang sejenis yakni pesaing yang bersifat subtitusi. Salah satu contoh yaitu usaha kerupuk.
2.      Aspek Operasi
a.    Bahan baku dan bahan penolong
Perencanaan bahan baku dan bahan pembantu merupakan bagian utama untuk perhitungan kebutuhan modal kerja. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah suplier, kuantitas, harga beli, persyaratan pembelian, ketersediaan, dan persediaan. Bahan baku yang digunakan adalaah ubi jalar, minyak goreng daan bumbu pelengkap.
b.    Proses Produksi
Proses produksi pada dasarnya menjelaskan tahapan-tahapan proses yang diperlukan untuk menghasilkan produk atau output yang dimaksud. Bentuk proses produk keripik ubi ini dibahas dalam bentuk resep. Keripik ubi jalar dibuat pertama dengan mengupas kulit luar ubi, kemudian dicuci dan di iris tipis-tipis. Setelah itu di cuci kembali sambil menyiapkan penggorengan yang berisi minyak panas. Masukkan irisan ubi jalar tadi secukupnya. Tunggu sampai irisan ubi keras dan mengapung di atas minyak. Kemudian angkat dan tiriskan minyaknya. Setelah minyak kering, segera campurkan bumbu kedalam irisan ubi yang sudah matang tadi, saat masih panas tingkat menempelnya bumbu akan lebih bagus, jadi usahakan mencampur bumbu saat masih panas. Seteah hasil gorengan ubi dingin, kemudian dikemas dengan plastik berbagai ukuran. Selanjutnya produk siap dipasarkan.
c.    Sarana Penunjang
Instalasi sarana penunjang berkaitan dengan tata letak (lay-out) yang termasuk dalam anggaran investasi. Pemasangan sarana penunjang ini meliputi listrik, air, telepon, internet, dan lain-lain.
3.      Aspek SDM
Kompetensi adalah ciri-ciri yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga dapat dicapai performansi prima dalam suatu bidang pekerjaan. Pada indikator kompetensi karyawan, kita harus melihat tiga sisi, yaitu sisi pertumbuhan, efisiensi, dan stabilitas. Di sisi pertumbuhan, akan memantau durasi bekerja, tingkat pendidikan, dan biaya pelatihan seorang karyawan. Selain itu tingkat turnover karyawan dan kemampuan meraih pelanggan juga bisa termonitor.
Sementara itu, di sisi efisiensi, harus dilihat proporsi para professional (karyawan dengan keahlian tertentu). Begitu juga dengan nilai tambah per karyawan dan professional serta keuntungan yang dihasilkan oleh setiap karyawan atau professional. Adapun sisi stabilitas akan terlihat dari turnover professional di sebuah perusahaan. Perencanaan tenaga kerja langsung (TKL), juga perlu memperhatikan hal-hal mengenai kualifikasi, tarif upah, jumlah tenaga yang dibutuhkan, dan persyaratan kerja. Karena dalam usaha ini pemilik juga merupakan investor aktif yang berarti pemilik juga menjalankan pekerjaan operasional, maka sistem penggajian tidak dihitung secara spesifik melainkan menerima pembagian dari laba yang didapatkan. Sehingga untuk saat ini usaha pemilik belum memerlukan tenaga kerja tambahan karena masih dapat mengelola sendiri usaha ini.
4.      Aspek Lingkungan Bisnis
Sifat dan derajat persaingan dalam suatu industri bergantung pada lima kekuatan atau faktor; ancaman pendatang baru, ancaman produk/jasa substitusi, daya tawar menawar pembeli (pelanggan), daya tawar pemasok dan persaingan antara anggota industri. Untuk menyusun rancangan strategi menghadapi kekuatan-kekuatan ini, perusahaan harus memahami bagaimana cara kerja kekuatan tersebut dalam industri dan bagaimana pengaruhnya terhadap perusahaan dan uraiannya sebagai berikut :
a.         Ancaman Masuk/ Pendatang Baru
Pendatang baru membawa masuk kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar dan juga bagian sumber daya yang cukup besar. Besarnya ancaman masuk tergantung dari hambatan masuk yang ada dan dari reaksi peserta persaingan yang sudah ada menurut perkiraan calon pendatang baru. Jika hambatan masuk tinggi, sementara calon pendatang baru sudah memperkirakan sebelumnya, maka pendatang baru tersebut bukanlah merupakan ancaman yang serius. Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman akan lingkungan persaingan yang dihadapinya, organisasi mengetahui posisi persaingannya sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi-operasinya. Misal, untuk meningkatkan bagian pasarnya dimana produk dan harga sama dengan para pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pembungkusan, pelayanan atau promosi. Meskipun pendatang baru untuk hari ini belum merupakan ancaman, akan tetapi ke depan tidak menutup kemungkinan akan menjadi ancaman yang besar, jika di dukung oleh kekuatan modal yang kuat.
b.    Daya tawar Pemasok
Menurut Handoko (1994:65), setiap perusahaan sangat tergantung pada sumber-sumber dari sumber daya-sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku (mentah), bahan pembantu, pelayanan, energi dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi. Oleh karena itu setiap perusahaan tergantung pada para penyedia bahan-bahan dan peralatan-peralatan. Pemasok dapat menggunakan ancaman tawar menawarnya atas para anggota industri dengan menaikan harga atau menurunkan kualitas barang dan jasa yang di jualnya. Pemasok yang kuat dapat menekan kemampulabaan suatu industri yang tidak dapat mengimbangi kenaikan biaya dengan menaikan harganya sendiri. Perusahaan Keripik ubi barokah dalam memenuhi kebutuhan bahan bakunya yang dalam hal ini adalah ubi tidak memiliki pemasok tetap. Biasanya pihak perusahaan terjun sendiri ke pasar ataupun ke masyarakat langsung yang memiliki tumbuhan ubi yang siap panen, meskipun kadang ada pemasok yang datang menawarkan ubi.
c.    Daya Tawar Pembeli
Perusahaan dalam memproduksi suatu barang tidak bisa terlepas dari konsumen atau pelanggan sebagai sasaran produk mereka. Sementara itu pembeli mampu mempengaruhi perusahaan dalam hal harga, terutama dalam hal menurunkan harga produk. Sehingga perusahaan harus pandai mencari celah dalam membidik pembeli potensial. Pembeli memiliki kemampuan untuk menekan harga, menuntut kualitas lebih tinggi atau layanan lebih banyak, dan mengadu domba sesama anggota industri. Pembeli cenderung lebih peka terhadap harga jika mereka membeli produk yang tidak terdifferensiasi, relatif lebih mahal terhadap penghasilan mereka, dan jika kualitas tidak terlalu penting bagi merekaa. Usaha Kripik Ubi “Barokah” akan berusaha untuk meraup pembeli potensial melalui sasaran pelemparan produknya, yang mana Usaha Kripik Ubi Barokah tidak hanya memfokuskan produknya untuk kalangan menengah keatas tetapi juga memberikan produk yang bisa merambah pada pembeli kelas menengah kebawah. Sehingga wajar kalau Handoko (1994:64) mengatakan bahwa manajer pemasaran harus menganalisa profil langganan sekarang dan potensial serta kondisi pasar dan mengarahkan kegiatan-kegiatan pemasaran perusahaan berdasarkan hasil analisa itu. Dalam situasi persaingan yang ketat, melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan langganan, perusahaan akan dapat menjaga kelangsungan hidupnya, berkembang dan mendapatkan keuntungan.
d.        Persaingan Antar Anggota dalam Industri
Menurut Handoko (1994:63-64), pemahaman akan ingkungan persaingan yang dihadapinya, organisasi mengetahui posisi persaingannya sehingga lebih mampu mengoptimalkan operasi-operasinya. Misal, untuk meningkatkan bagian pasarnya dimana produk dan harga sama dengan para pesaing, perusahaan harus menciptakan perbedaan-perbedaan dalam pembungkusan, pelayanan atau promosi. Perusahaan memiliki keleluasaan tertentu untuk memperbaiki keadaan melalui perubahan strategik. Pemusatan usaha penjualan pada segmen industri yang paling cepat tumbuh atau pada wilayah pasar yang biaya tetapnya paling rendah dapat mengurangi dampak persaingan antar anggota industri. Untuk masalah persaingan dalam industri, Perusahaan Keripik ubi “ Barokah “perlu melakukan identifikasi posisi pesaing yang ada. Meskipun untuk skala produksi yang sejenis Perusahaan keripik ubi barokah tidak memiliki pesaing yang tergolong besar khususnya di wilayah Desa Pesanggerahan. Dengan memperhatikan berbagai peluang yang dapat mendukung perkembangan bisnis sejenis tersebut dimungkinkan dapat menjadi pesaing yang potensial bagi Perusahaan. Pesaing disini dapat masuk melalui kemampuan melakukan inovasi produk maupun melalui perolehan pembeli potensial.
e.         Barang Subsitusi
Dalam industri pengolahan terutama bergerak di bidang makanan dan minuman khususnya jajanan atau camilan, produk kripik ubi sangat mudah ditemukan produk substitusinya di pasaran. Produk substitusi seringkali masuk dengan cepat ke dalam industri yang dapat mengakibatkan turunnya harga atau sebaliknya meningkatkan kinerja perusahaan. Produk tersebut misalnya berupa kripik-kripik lain seperti kripik pisang, kripik apel, kripik singkong, dan kripik lainnya. Bisa juga berbentuk jajanan lain selain jenis kripik. Penetapan batas harga tertinggi akan membatasi potensi produk atau jasa substitusi suatu industri. Jika industri tidak mampu meningkatkan kualitas produk atau mendefinsikannya, laba dan pertumbuhan industri dapat terancam. Produk dan jasa substitusi tidak hanya membatasi laba dalam masa-masa normal melainkan juga mengurangi laba maksimal yang dapat diraih industri dalam masa keemasan.
5.      Aspek Finansial
Salah satu komponen yang mendukung pembangunan nasional adalah tersedianya lembaga intermediasi yang mempunyai fungsi menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya. Lembaga intermediasi yang ada dibedakan dalam 3 kategori yakni :
a. Berbentuk Bank tunduk pada Undang-Undang Pokok Perbankan
b. Berbentuk Koperasi Simpan Pinjam tunduk pada Undang-Undang Koperasi
c. Lembaga Keuangan Mikro lainnya yang belum diatur undang-undang
Lembaga keuangan mikro yang membantu mengembangkan iklim wirausaha di Indonesia diatur dalam Surat Edaran Menteri Keuangan No. SE-31/MK/2000 tanggal 5 Mei 2000 tentang Pelaksanaan Program PUKK. Dalam hal ini Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Keuangan No.316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994 yang menggantikan Surat Keputusan Menteri BUMN/Kepala Badan Pembina BUMN No. Kep.216/M-PBUMN/1999 tanggal 28 September 1999. Sumber pendanaan dari Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) berasal dari penyisihan laba BUMN termasuk saldo dana Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) tahun-tahun sebelumnya yang merupakan sumber pendanaan utama dalam merealisir terwujudnya pemerataan kehidupan perekonomian masyarakat melalui kemitraan dengan para pengusaha kecil dan koperasi serta lingkungan masyarakat sekitarnya. Pelaksanaan Program Pembinaan Usaha Kecil, Koperasi (PUKK) dan Bina Lingkungan dilaksanakan di dalam lingkup masyarakat yang bertujuan untuk mendorong tercapainya pertumbuhan ekonomi rakyat, melalui pemerataan di sektor ekonomi dimana anggota masyarakat golongan pengusaha kecil dan koperasi di beri kesempatan untuk melakukan perluasan usahanya, berdasarkan bantuan pinjaman untuk modal kerja / pinjaman lunak yang berasal dari penyisihan laba BUMN.
6.      Aspek Hukum
Aspek Hukum meliputi perizinaan untuk melaksanakan kegiatan industri. Usaha Kripik ubi barokah membutuhkan surat perizinaan berupa :
a.    Pembuatan surat perijinan ke Bappeda
Pembuatan surat perijinan ke Bappeda bertujuan untuk mendapatkan perijinan tentang usaha yang akan dikelola. Audiensnya yaitu kesekretariatan direktur beserta jajarannya yang bertanggung jawab tentang perijinan.
b.    Pembuatan surat standarisasi BPOM
Pembuatan surat standarisasi BPOM bertujuan untuk meminta standarisasi produk/barang yang dihasilkan perusahaan. Audiensnya yaitu para manager produksi, karena produksi harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Saluran komunikasinya yaitu formal dengan pembuatan surat ijin rekomendasi untuk standarisasi yang produknya telah dilakukan pengujian sebelumnya
c.    Sertifikat halal dari MUI
7.      Aspek Ekonomi, Sosial dan Politik
Para manajer akan selalu terlibat dengan masalah-masalah biaya, sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan perusahaan. Biaya-biaya ini setiap waktu selalu berubah-ubah karena factor-faktor ekonomi. Karena itu menurut Handoko (1994:68), manajer senantiasa menganalisa dan mendiagnosa faktor-faktor ekonomi seperti kecenderungan inflasi atau deflasi harga barang-barang dan jasa, kebijaksanaan-kebijaksanaan moneter, devaluasi atau revaluasi dan yang menyangkut tingkat bunga, kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal, keseimbangan neraca pembayaran dan harga-harga yang ditetapkan oleh para pesaing dan penyedia. Jadi, manajer-manajer perusahaan harus mencurahkan waktu dan sumber daya-sumber daya untuk melakukan peramalan ekonomi dan antisipasi perubahan-perubahan harga. Faktor ekonomi berkaitan dengan sifat dan arah sistem perekonomian tempat suatu perusahaan beroperasi. Faktor ekonomi ini merupakan faktor yang sangat rawan dan sering menjadi bahan pertimbangan dalam upaya pengambilan keputusan oleh manajemen dalam perusahaan, apalagi di tengah situasi yang tidak menentu seperti ini. Terdapat beberapa indikator ekonomi yang perlu dianalisis untuk memberikan pertimbangan yang akurat dalam menentukan strategi perusahaan seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi ataupun pendapatan nasional. Sisi pendapatan nasional perkapita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Pendapatan nasional perkapita dapat dilihat dari daya beli masyarakat secara umum. Pada tahun-tahun terakhir ini, pendapatan perkapita Indonesia mengalami kenaikan. Kenaikan pendapatan perkapita tersebut mengindikasikan adanya daya beli potensi oleh masyarakat yang dapat memberi peluang bagi kegiatan bisni ini. Aspek Ekonomi dan sosiaal usaha Keripik Ubi “ Barokah “ adalah sebagai berikut :
a.    Pembukaan Lapangan kerja dan Pemerataan kesempatan kerja
b.    Peningkatan penghasilan devisa negara/ pendapatan negara sebab berkurangnya jumlah pengangguran dan bertambahnya pendapatan masyarakat setempat
c.    Penghematan devisa sebab usaha ini menggunakan bahan baku hasil negeri sendiri, tidak mengimport.
d.   Aspek sosial meliputi semakin ramainya daerah tempat usaaha tersebut, sebab usaha ini akan dijadikan tempat berkunjung untuk dijadikan oleh-oleh dari Pesanggerahan sehingga membuka kesempatan bagi industri pendukung untuk beroperasi disekitar usaha ini.
C.    Pemanfaatan Teknologi Informasi
Dalam persaingan bisnis yang semakin keras dan ketat saat ini, informasi teknologi memegang peranan penting dalam pengembangan bisnis. Yang menjadi titik point adalah bagaimana teknologi dapat digunakan dan apa yang perlu diketahui bisnis mengenai teknologi sehingga memberi dampak terhadap stategi bisnis dan selalu terlibat dalam berbagai perencanaan serta pengkajian strategi bisnis. Pemanfaatan sistem teknologi informasi memberikan lima peran utama di dalam organisasi :
a)    Meningkatkan efisiensi, yaitu menggantikan manusia dengan teknologi di proses produksi.
b)   Meningkatkan efektivitas, yaitu menyediakan informasi bagi para manajer di organisasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan dengan lebih efektif yang didasarkan dengan informasi yang akurat, tepat waktu, dan relevan sehingga mendapat hasil produksi yang akurat dan bebas dari cacat produksi sesuai dengan sasaran produksi yang diinginkan.
c)    Meningkatkan komunikasi, yaitu mengintegrasikan penggunaan sistem teknologi informasi dengan menggunakan email dan chat.
d)   Meningkatkan kolaborasi.
e)    Meningkatkan kompetitif, yaitu sistem teknologi informasi digunakan untuk keunggulan kompetisi.

D.    Analisis Resiko Usaha
Menggambarkan hal-hal yang mungkin mengganggu pelaksanaan investasi dan pengembalian pinjaman.
a)         Adanya perubahan selera pasar yang kemungkinan akan terjadi.
b)        Kenaikan harga bahan baku diatas 25%
c)         Kebijakan pemerintah yang sewaktu-waktu akan berubah.
d)        Resiko yang dihadapi ketika perekonomian tidak stabil adalah akan terganggunya produktivitas yang akan dihasilkan.
e)         Adanya persaingan dari pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari usaha ini.
f)         Kenaikan upah tenaga kerja sebesar 30%
g)        Penurunan Daya Beli Masyarakat
h)        Kerusakan mesin – mesin peralatan
Antisipasi Resiko Usaha menggambarkan strategi/kegiatan yang dilakukan dalam mengantisipasi dan meminimalkan resiko usaha.
a)      Pembelian stock bahan baku dan bahan penolong.
b)      Membuat kontrak kerja dengan tenaga kerja.
c)      Menyediakan fasilitas pendukung untuk pekerja agar tetap loyal.
d)     Memperluas saluran distribusi pemasaran.













BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Selain sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar (Ipomoea batatas Poir.) juga mengandung vitamin A, C, dan mineral. Ubi jalar yang daging umbinya berwarna ungu, banyak mengandung anthocyanin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena berfungsi mencegah penyakit kanker.
Dalam melakukan studi kelayakan suatu usaha, analisis bisnis yang perlu dilakukan adalah menilai aspek-aspek seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek operasi, aspek SDM, aspek lingkungan bisnis, aspek finansial, aspek hukum, aspek ekonomi sosial dan politik. Selain itu, dengan keras dan ketatnya persaingan usaha pada era modern ini, pemanfaatan teknologi informasi juga tidak boleh diabaikan. Tanpa melupakan resiko usaha yang mungkin datang setiap saat, setiap pengusaha harus siap dan tanggap dengan perubahan lingkungan yang terjadi agar usahanya tetap lancar, maju berkembang dan mendapatkan untung yang banyak.


B.       Saran

Studi kelayakan usaha ini dilakukan dengan waktu yang cukup banyak, namun penulis agak lalai dalam menenyelesaikannya, untuk para pembaca yang budiman jangan lupa mengerjakan tugas tepat pada waktunya agar semua terselesaikan tanpa-tanpa tergesa-gesa dan hasilnya memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Desmintha, Teh. 2012. Studi Kelayakan Bisnis Keripik Nangka. http://abuamahteh. blogspot.com/2012/10/studi-kelayakan-bisnis-keripik-nangka.html. Diakses pada hari Senin 4 Nopember 2013.


Julita, Sarmi. 2011. Tanaman Ubi Jalar. http://julitasweet.blogspot.com/2011/09/ tanamanubijalar.html. diakses pada hari Senin 4 Nopember 2013.